CUPI CRYPTO

Crypto & Blockchain Business Practitioner ➡️ https://linktr.ee/cupi | SEO Expert ➡️ majelis.info | Let's collaborate and achieve success together!

ads

Hot

Post Top Ad

Rabu, 25 November 2015

Puisi: "Kayu, ataukah Kita yang tak mempunyai Jiwa?" & Riwayat Tentang Tangisan Kayu

11.35.00

inilah Puisi: "Kayu, ataukah Kita yang tak mempunyai Jiwa?" & Riwayat Tentang Tangisan Sebatang Kayu
yg di tulis oleh pelajar di Yaman!

"Kayu, ataukah Kita yang tak mempunyai Jiwa?"
Oleh : Imam Abdullah El-Rashied

Termaktub secara Mutawatir Sanadnya
Dalam kitab-kitab Hadits Riwayatnya
Di Masjid Nabawi kisah ini mulanya
Saat Mimbar baru dibuat untuk Rasul Mulia
Sebatang kayu yang selama ini jadi sandarannya
Tiap kali berkhutbah menyampaikan Risalahnya

Sebatang kayu yang menjerit tiada hentinya
Karena posisi yang terganti Mimbar kisahnya
Sebatang kayu yang menangis sejadinya
Membuat para Sahabat terheran penuh tanya
Gerangan apakah, hingga dia merana dibuatnya?

Sebatang kayu yang tak mempunyai Jiwa katanya
Tak pula memiliki Hati di dalam Batangnya
Membuat Masjid Nabawi bergema oleh tangisnya
Hingga menampak telah terbelah jasadnya

Datanglah Sang Rasul menghampiri dirinya
Mengusap Nestapa yang sedang melandanya
Terdiamlah rintihan yang menggetarkannya
Andai tangan lembut itu tak mengusapnya
Niscaya hingga Mentari terbit dari arah baratnya
Tangisan itu tak kan berhenti untuk selamanya

Sang Nabi memberi dua penawaran padanya
Antara ditanam di Kebun tempat bermulanya
Supaya berbuah sebagai sediakalanya
Atau ditanam di Surga Tuhannya
Agar dimakan Kekasih Allah -buahnya-

Dirinya menyambut pada kekekalan pilihnya
Di sebuah tempat yang tak kan Fana di dalamnya
Pengucapan itu terdengar oleh semua yang menghadirinya
Sang Nabi-pun menepati janji dalam Sabdanya

Duhai setiap Jiwa yang mengaku Pecintanya
Duhai setiap hati yang mengaku Perindunya
Jika sebatang kayu yang tak berjiwa katanya
Menangis penuh Rinduh karena terpisah darinya
Padahal hanya terpisah jarak yang tak seberapa jauhnya

Kayu, ataukah kita yang tak hidup Hatinya?
Kayu, ataukah kita yang tak bangkit Jiwanya?
Kayu, ataukah kita yang lebih berhak mencintainya?
Kayu, ataukah kita yang lebih pantas merindukannya?

Hadramaut, 10 Nov 2015.

Riwayat Tentang Tangisan Sebatang Kayu:
Disebutkan dalam Kitab Ghoitsu As-Sahabah karya Syeikh Muhammad Baatiyah hal. 324:
"Adapun Mu'jizat Nabi Muhammad SAW yang di antaranya adalah "Rintihan Batang Kurma" yang merintih karena terpisah dari Rasulullah SAW itu merupakan kejadian yang disaksikan (banyak Sahabat). Disebutkan dalam Shahihain (Bukhari-Muslim) dari Jama'ah (orang banyak) dari Sahabat r.a., mereka berkata:
"Dahulu Masjid (Nabawi) itu beratapkan batang pohon kurma, sedangkan jika Nabi SAW berkhutbah akan bersandar pada salah satu batang kurma tersebut. Ketika dibuatkan Mimbar untuk beliau, kami mendengar suara seperti suara ringikan Unta".
Dalam riwayat lain : "Hingga Masjid bergetar karena saking kuatnya suara ringikan tersebut", ini riwayat dari Ad-Darimi.
Dalam riwayat Sahl Bin Sa'ad : "Dan betapa banyaknya tangisan orang-orang (yang menykasikannya)" sebagaimana disebutkan dalam Asy-Syifa.
Dalam riwayat Al-Muththalib Bin Abi Wada'ah : "Hingga terbelah batang kurma tersebut kemudian dihampiri oleh Nabi SAW kemudian beliau meletakkan tangannya pada batang kurma tersebut hingga terdiam", ini riwayat dari Ibnu Majah.
Imam Ahmad menambahi : "Kemudian Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya ia menangis karena merasa kehilangan Dzikir Allah SWT (yang biasa dibaca di atasnya)".
Sedangkan riwayat tambahan dari Ad-Darimi : "Nabi SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggamannya, andai aku tidak menenangkan batang kurma itu, niscaya ia akan seperti itu (menangis) hingga hari kiamat". Kemudian Nabi SAW menyuruh agar batang kurma tersebut dipendam di bawah Mimbar.
Ad-Dailami juga meriwayatkan dari Buraidah: "Sesungguhnya Nabi SAW bersabda: "Jika engkau (batang kurma) mau, akan aku letakkan kamu pada kebun yang dahulu kamu ada di situ hingga nanti akar-akarmu bisa tumbuh dan kembali sempurna bentuk batangmu serta diperbarui taman bunga dan buah-buah untukmu. Atau jika kamu mau maka akan aku tanam dirimu di Surga agar Para Kekasih Allah bisa memakan buahmu? Maka batang kurma tersebut menjawab: "Ia, kau tanam diriku di Surga (saja), agar aku berada di tempat yang aku tak akan sirnah di dalamnya". Semua yang hadir mendengarnya. Kemudian Nabi SAW bersabda: "Telah aku lakukan", kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya dia (batang kurma) telah memilih tempat yang abadi dari pada tempat yang fana".
Imam Hasan Al-Bashri r.a. manakala meriwayatkan Hadits ini beliau menangis seraya berkata: "Wahai Hamba Allah, Batang Kayu saja merengek karena rindu kepada Rasulullah SAW ketika terpisah darinya, sungguh kalian lebih berhak untuk merindu bertemu dengan Rasulullah SAW". [Ghoits As-Sahabah, cet. Maktabah Tarim Al-Haditsah th. 2006)
Disebutkan dalam Kitab Minah Al-Makkiyah karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami penjelasan dari Al-Hamziyah karya Imam Al-Bushairi hal. 193 :
"Dan batang pohon kurma telah merengek kepadanya sebagaimana diriwayatkan dari banyak jalur yang Shahih dan selainnya yang kesemua riwayat tersebut memberikan dampak pada kemutawatirannya secara makna dan mengantarkan pada keyakinan tentang terjadinya peristiwa tersebut secara Qath'i (tidak bisa dibantah). Dalam hal riwayat Mutawatir Ma'nawi bisa diikutkan pada pendapatnya Imam Tajuddin As-Subuki: "Yang benar menurut saya : "Sesungguhnya rengekan kurma tersebut Mutawatir". Begitu juga pendapat Al-Qhadi 'Iyad. [Al-Minah Al-Makkiyah, cet. Dar El-Minhaj th. 2011)



blog comments powered by Disqus SocialTwist Tell-a-Friend
Read More

Sabtu, 14 November 2015

Qurrotul Uyun - Kewajiban Suami Istri

10.31.00
Kemudian Syaikh penazham berkata:

``Ketaatan istri itu dilarang pada perkara yg haram # seperti melarang istri dari perkara mubah lagi hina``

Didalam kitab An_Nashihah dikatakan, suami tidak boleh taat kepada istrinya atau sebaliknya, kepada perkara yg telah disepakati keharamannya. Berbeda dengan perkara yg masIh diperselisihkan ke haramannya. Maka suami boleh mengikuti ulama yg tidak mengharamkan perkara tsb selama ia tidak meremehkan hukum dan mengikuti kemurahan syariat.

Dan suami tidak boleh melarang istrinya untuk melakukan perkara yg mubah lagi tidak jelek, seperti memakai sutra dan emas. Adapun perkara/pekerjaan yg jelek, yg bisa merendahkan martabat sang istri, seperti istri bekerja menjadi tukang bekam, walaupun yg dibekamnya hanya wanita atau mahramnya saja, maka suami boleh melarang istrinya melakukan pekerjaan tsb, dan inilah yg dimaksud Syaikh penazham dengan perkataannya: ``seperti melarang istri dari perkara mubah lagi
hina``.

Kemudian Syaikh penazham berkata:

``Dan hendaklah kamu perintahkan istrimu wahai sahabat, untuk shalat # Dan ajarkanlah agama dan tentang mandi besar``

Didalam kitab Al_Madkhal dikatakan:`` Dan wajib bagi suami mengajarkan budak-budaknya tentang tata cara shalat dan juga tentang membaca Al_Qur`an dan apa saja yg mereka butuhkan untuk kebutuhan agama mereka, dan wajib juga hal tsb diajarkan kepada istri dan anak anaknya, karena tidak ada bedanya antara mereka karena mereka adalah termasuk yg diurusnya. dan didalam kitab Al_Waqhlisiyah dikatakan dan perintahkanlah istrimu halnya wajib untuk melaksanakan Shalat dan yg lain lainnya dan ajarkanlah mereka kewajiban- kewajiban agamanya sepertikan masalah haid dan mandi besar. Karena Allah Ta`ala telah memerintahkan para suami untuk menjaga keluarganya dari api neraka, sebagai mana firman Allah Didalam Al_Qur`an:``Wahai orang orang yg beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari api neraka.``

Dan didalam syarah kitab Al_Waghlisiah dikatakan: Telah berkata Ibnu Al_Arabi: Diwajibkan atas suami mengajarkan istrinya atau ia mengizinkn istrinya untuk belajar ilmu agama, bahkan harus mendorong dan memerintahkannya, apabila tidak, maka ia termasukorang yg bersekutu didalam perbuatan dosa, jika istri mau belajar, akan tetapi suami melarangnya, maka suaminya berdosa. Sungguh sangat mengherankan bila ada suami yg marah kepada istrinya karena ia telah menyia nyiakan hartanya. Akan tetapi ia tidak marah jika istrinya menyia nyiakan agamanya. Kita minta kepada Allah kekuatan akan hal itu.

Didalam kitab Ihya Ulumuddin pada bab nikah dikatakan, Sesungguhnya yg pertama kali bergantung kepada seorang suami pada hari kiamat adalah istri dan anak-anaknya, maka mereka dihadirkan dihadapan Allah Swt dan mereka berkata: ``Ya Robbana ambillah hak-hak kami dari laki laki ini, karena ia tidak mengajarkan kepada kami tentang ilmu agama sehingga kami menjadi bodoh, dan adalah ia memberi kami makan dengan makanan haram sedangkan kami tidak mengetahuinya, maka dihukumlah laki laki itu sebab pengaduan istri dan anak-anaknya.

Dan berkata Nabi Saw:``Tidaklah seseorang membawa dosa yg lebih besar dibandingkan dosa orang yg menyebabkan/membiarkan keluarganya menjadi bodoh (dalam hal agama). Dan berkata Abu Ali ibnu Khajwa Rahimahullah didalam syarah kitab Arjuzah karya Imam Al_Mubti: ``Maka wajib atas setiap orang yang telah Allah serahkan suatu kepemimpinan, hendaklah ia memerintahkan kepada mereka perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan mungkar. Dan barang siapa yg mempunyai istri atau budak yang mereka tidak melaksanakan shalat, maka orang tersebut mendapatkan bagian dari dosa mereka yg tidak melaksanakan shalat.

Dan didalam sebagian Atsar (perkataan shabat) dikatakan, barang siapa yang mempunyai istri atau budak atau anak yg mereka tidak melaksanakan shalat dan orang tsb membiarkan mereka meninggalkan shalat, maka pada hari kiamat orang tsb akan dikumpulkan bersama orang-orang yg meninggalkan shalat, walaupun orang tsb termasuk dari orang yg melaksanakan shalat.

Dan kebanyakan manusia mereka akan memukul istri, budak dan anak anak mereka ketika mereka melalaikan urusan dunia mereka, dan ia tidak berbuat akan hal tsb bila mereka melalaikan urusan agamannya. Dihadapan Allah Swt. orang tersebut sama sekali tidak mempunyai alasan ketika Allah menanyakan tentang keluarganya, kecuali dia akan berkata, ``Mereka sudahaku perintah, namun mereka tidak mau mendengarkan (tidak mau taat). Sekiranya mereka mengetahui, bahwasanya ia sangat keberatan dengan keluargannya yang meninggalkan shalat sebagai mana ia merasa keberatan dengan keluargannya yang merusak makan dan ia memarahi mereka sebab apa yang mereka tinggalkan dan bukanlah hal tsb sebagai nasihat.

``Diriwatkan dari Nabi Saw. beliau bersabda: ``Barang siapa yang diserahi Allah Swt. untuk memelihara suatu urusan bagi rakyat, kemudian dia tidak memberi kemurahan kepada mereka dengan jalan memberi nasihat,maka dia tidak akan mencium (harumnya) bau surga.`` syaikh penazham telah memindahkan hadis tsb dari syarah kitab Muatho`.

Sumber:

blog comments powered by Disqus SocialTwist Tell-a-Friend
Read More

Senin, 28 September 2015

Lir Ilir Dan Padang Bulan Bersenandung Di Yaman

13.31.00
Lir Ilir Dan Padang Bulan Bersenandung Di Yaman
Oleh : Imam Abdullah El-Rashied
Mahasiswa Fakultas Syariah, Imam Shafie College Hadramaut - Yaman.
Pekan Hari Raya Idul Adha adalah salah satu pekan libur tahunan bagi Mahasiswa di Yaman khususnya Mahasiswa Imam Shafie College yang berlokasi di Ibu Kota Provinsi Hadramaut yaitu Kota Mukalla. Sebagaimana lazim di hari-hari libur panjang Kuliah, para Mahasiswa beserta pengurus harian Kuliah turut serta berlibur tuk sejenak menghilangkan kepenatan dari padatnya jadwal kuliah.
Dalam menghabiskan masa libur kuliah selama ini biasanya kalau tidak ke pantai yah ke kolam renang. Hanya saja momen Idul Adha kali ini lebih spesial dari pada tahun sebelumnya, di mana tahun kemaren sesuai dengan kebijakan perkuliahan liburan Idul Adha hanya dihabiskan di Kota Mukalla. Walaupun di Kota Mukalla yang merupakan Kota Kampus kami, Dewan Kampus membawa Mahasiswa ke Vila yang mempunyai Kolam Renang selama 2 hari 2 malam.
Biasanya, baik itu di Kolam maupun di Pantai, teman-teman senantiasa mengadakan lomba-lomba khas agustusan seperti lari kelereng, memasukkan paku ke botol dan mengambil koin dalam tepung. Hal ini tak lain untuk menghilangkan efek jenuh kuliah dan pesantren yang jadwal kegiatannya padat dari Shubuh sampai Isya'. Walaupun kami adalah Mahasiswa akan tetapi kami juga jadi Santri di Ribath Imam Syafi'i, sehingga kegiatan pembelajaran terasa sangat padat.
Nah, spesialnya pada liburan Idul Adha kali ini adalah kami para Mahasiswa bersama Staff pengurus Ribath & Universitas Imam Syafi'i hampir secara keseluruhan menghabiskan masa liburan di Kota Tarim. Jarak yang ditempuh dari Mukalla ke Tarim hanya memakan waktu 7 jam bila ditempuh dengan Mobil Pribadi.
Sebelum Idul Adha, tepatnya di hari Arafah kami mengikuti Munajat bersama di Khelih, Tarim bersama para Ulama' dan Habaib Kota Tarim dari setelah Shalat Ashar sampai menjelang masuknya waktu Isya'. Selain bermunajat, di situ juga ada buka puasa Arafah bersama dengan menu Nasi Kebuli dan Kambing yang dibagikan kepada para hadirin secara cuma-cuma.
Esok harinya kami melaksanakan Shalat Ied di Jabanah, satu tempat Khusus yang digunakan untuk Sholat Ied dan Shalat Jenazah yang lokasinya tepat di Jantung Kota Tarim dan berseberangan dengan Pemakaman Zanbal yang terkenal dengan Makam Seribu Wali.
Tepat pada malam senin 14 Dzul Hijjah 1436 H, 3 hari pasca Idul Adha. Kami Para Mahasiswa bersama Staff Pengurus Kuliah mengadakan 'Awad di penginapan. 'Awad sendiri adalah semacam acara kumpul bersama di mana di dalamnya berisi pembacaan Shalawat, Qasidah serta Do'a. Dalam 'Awad sendiri biasanya ada minuman Khas yang disajikan yaitu Qahwah atau Kopi, hanya saja Kopi Tarim tak sama dengan Kopi Indonesia, Kopi di sini lebih cenderung menggunakan campuran Jahe dari pada biji Kopi.
Karena di sini kami adalah Mayoritas, jadi dalam urusan Shalawat dan Qashidah lebih banyak diserahkan kepada kami Mahasiswa Indonesia, walaupun terkadang ada selingan dari Mahasiswa Yaman maupun Saudi. Acara 'Awad dimulai setelah Shalat Isya' sampai jam 22.30 waktu setempat. Selain menyenandungkan Qashidah dan Shalawat, teman-teman banyak yang maju di hadapan hadirin untuk melakukan Tarian Jafin maupun Gambus.
Dari awal acara, penyajian Shalawat dan Qashidah masih menggunakan Kultur dan Nada Padang Pasir alias kearab-araban hingga tiba di penghujung acara teman-teman berinisiatif untuk membawakan Qashidah Khas Indonesia. Di luar ruangan nampak Cahaya Rembulan begitu terang karena malam ini adalah Malam ke 14 yang mendekati Puncak Purnama. Nah, di bawah pancaran Sinar Rembulan teman-teman membawakan Qashidah "Padang Bulan" yang dipopulerkan oleh Habib Syeikh tersebut, dilanjutkan dengan Tembang Kanjeng Sunan yaitu "Lir Ilir", teman-teman kian semangat dan serentak membawakannya. Syeikh dan Staff Pengurus Harian Kuliah beserta Mahasiswa dari Yaman dan Saudi hanya tersenyum tanpa memahami apa yang kami baca secara serentak ini karena tak lain bahasanya adalah Bahasa Jawa.[]
Ditulis di Tarim, Senin 14 Dzul Hijjah 1436 H/28 September 2015.
Foto : Mahasiswa Indonesia Sedang Menabuh Rebana Dan Marawis Mengiringi Tembang Lir Ilir Dan Padang Bulan.

blog comments powered by Disqus SocialTwist Tell-a-Friend
Read More

Post Top Ad